Oleh :
Indriani Mulyanti, Amd.Keb
Bidan dan Member Akademi Menulis Kreatif

Indonesia digemparkan  dengan  muncul  banyak kerajaan-kerajaan baru. Mengaku sebagai raja dan ratu, padahal wilayah kekuasaan mereka klaim masih wilayah kekuasaan NKRI. Rakyat atau pengikutnya pun masih memiliki KTP rakyat Indonesia.  Membangun negara didalam negara. Kekuasaan ilusi yang mengelabui orang-orang yang terpedaya.  Beragam nama kerajaan baru pun bermunculan di media , contoh nya : kerajaan ubur- ubur di Serang Banten, Sunda Empire di Bandung, Kesultanan Selaco di Tasikmalaya, Keraton Djipang di Blora, Keraton Agung Sejagat di Purworejo, dan masih banyak lagi.

Munculnya fenomena kerajaan-kerajaan baru di Indonesia bukanlah hal baru. Beberapa tahun silam Indonesia pernah heboh dengan munculnya Kerajaan tahta suci yang dipimpin oleh Lia Eden. Lia Eden mengaku mendapatkan wahyu dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Rasul Kerajaan Surga. Dia juga menganggap dirinya sebagai Jibril dan Mesias. Tidak hanya itu, Lia juga mengaku sebagai Bunda Maria. Kerajaan tahta suci inipun  ditetapkan sebagai aliran sesat oleh kementrian agama. Pimpinannya diproses hukum, dan 2x dijebloskan ke penjara.

Dilansir suara.com (19/01/2020), Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid mengatakan, tidak ada yang aneh atas kemunculan kerajaan-kerajaan baru. "Menurut saya tidak ada yang aneh. Dari waktu ke waktu terus bermunculan. Kalau kita lihat, sejak 1970-an, kerajaan-kerajaan seperti itu bermunculan," ujar Hilmar di Jakarta, Minggu.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun memberikan tanggapan yang berbeda tentang hal ini. Dilansir CNN Indonesia (17/01/2020) Pak Ridwan kamil secara pribadi mengaku ironis dengan keberadaan kelompok yang mengklaim telah menciptakan sebuah tatanan baru bernegara. Kang Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil)  beranggapan bermunculan kerajaan atau kesultanan baru menunjukkan banyak orang yang stress saat ini.
"Ini banyak orang stres di republik ini, menciptakan ilusi-ilusi yang sering kali romantisme-romantisme sejarah ini. Dan, ternyata ada orang yang percaya juga menjadi pengikutnya," ucapnya.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar  memberikan opini yang sama, beliau menyebut kerajaan-kerajaan baru, seperti Keraton Agung Sejagat (KAS) dan Sunda Empire dikelola oleh orang yang tidak waras.
"Jangan-jangan orang-orang kurang sehat, orang kurang waras kok. Jangan orang kurang waras Anda respons habis-habisan," kata Bahtiar saat ditemui di Kantor Kemendagri, Jakarta.

Para ahli menelaah lalu mereka  menyimpulkan bahwa kenyataan bahwa mayoritas pengikut kesultanan atau kerajaan baru adalah orang-orang yang memiliki masalah yang pelik dalam kehidupannya. Dan para oknum raja ini memanfaatkan situasi yang ada untuk mengeruk keuntungan dari masyarakat. Dengan dijanjikan harta, jabatan dan kemapanan masa depan, banyak pihak masyarakat yang tergiur lalu mereka memutuskan untuk menjadi pengikut oknum tersebut.

Sebagai contoh dalam kasus  kerajaan Agung Sejagat (KAS) Berdasarkan hasil penyidikan kepolisian, pengikut Keraton Agung Sejagat diketahui wajib membayar uang Rp 3.000.000 untuk biaya pendaftaran anggota KAS. Setelah membayar uang pendaftaran, Keraton menjanjikan para anggota akan mendapat gaji dalam bentuk dolar tiap bulan.

Dilansir liputan6.com  (19/01/2020), dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran Ahmad Buchori menyatakan  "Jadi fenomena ini berangkat dari kisah peristiwa Ratu Adil. Bukan fenomena baru sebenarnya, bahkan di dunia ada gerakan milenarianisme, yang muncul setiap waktu tertentu. Gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebuntuan zaman," ujarnya.

Sistem kehidupan yang diterapkan saat ini adalah kapitalisme, aturan yang dibuat bermodalkan kecerdasan otak manusia. Aturan yang gagal mensejahterakan dan memberikan keadilan didalam kehidupan manusia. Karena sejatinya otak manusia itu terbatas, dan manusia tidak mengetahui secara pasti hal yang terbaik untuk dirinya. Makanya sistem kehidupan kapitalisme hanya mensejahterakan segelintir orang dan menyengsarakan pihak yang lain.

Kapitalisme yang mengukur kebahagiaan dan kesuksessan berdasarkan materi (harta). Sehingga membuat manusia mati-matian mengejar dunia, Hal ini yang menyebabkan banyak orang menjadi stress. Berlomba mengumpulkan harta sebanyak mungkin, tapi mereka enggan berbagi. Maka terciptalah suasana kehidupan yang timpangtindih. Jurang pemisah semakin lebar antara si miskin dan si kaya.

Islam Memberikan Solusi

Pemerintah sebagai penjaga dan pelindung rakyat, harus memastikan setiap rakyat hidup dalam kondisi yang aman dan tentram. Keamanan dan melindungi aqidah umat agar senantia lurus adalah tugas negara. Karena stabilitas keamanan berhubungan erat dengan keimanan. Ketika keimanan goyah bahkan hilang, niscaya keamanan akan tergoncang. Allah SWT berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” [al-An’am/6 : 82]

Islam memiliki aturan yang lengkap, termasuk memberikan solusi penanganan untuk kasus bermunculannya kerajaan palsu. Dalam Islam pelaku pembuat kerusakan di hukum secara tegas dengan hukuman yang keras.

Allah Swt berfirman dalam Qs al-Maidah ayat 33 :
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
" Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar".
Fenomena kerajaan baru ini perlu penanganan yang serius oleh pemerintah. Oknum raja atau ratu yang meresahkan dan merugikan masyarakat harus diberikan hukuman berat yang memberikan efek jera. Karena jika dibiarkan atau hanya diberikan hukuman ringan, dimasa yang akan datang pasti akan lebih banyak lagi bermunculan kerajaan-kerajaan ilusi yang baru.

Hal yang terpenting adalah kita harus mencampakkan kapitalisme, penyebab utama  masyarakat  menjadi stress. Lalu  mengganti sistem tersebut dengan Islam.  Karena hanya sistem Islam saja yang mampu mensejahterakan manusia, menjamin keamanan, dan keadilan. Sistem yang sesuai fitrah manusia, Karena berasal dari penciptanya manusia. Seandainya  kita hanya  menerapkan satu saja aturan Islam dalam kehidupan, pasti akan menuai keberkahan. Apalagi jika kita menerapkan sistem Islam secara menyeluruh, pasti keberkahan akan turun dari langit dan bumi menyelimuti orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Swt.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِقَامَةُ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ مَطَرِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Penegakkan satu hukum Allah lebih baik dari hujan selama empat puluh hari”.[As-Shahihah No. 231]
Allah Swt berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" ( Qs. al-Araf :96)
Wallahu Alam bishshawab
 
Top